AMBYAR BARENG NGOPINYASTRO
Pembacaan puisi oleh Ali Syafaat
Kamu pasti pernah
ngerasa ambyar? Selasa malam tepatnya 17
September 2019, Komunitas NGOPINYASTRO yang digawangi orang-orang keren pecinta
sastra mengajak aku merasakan keambyaran bareng di warung kopi Bjong.
Sekitar pukul
19.00 WIB Bjong sudah sesak oleh pegunjung yang tampak melahap penampil pertama
malam itu, sekujur tubuhnya ditutup sarung sambil melantunkan mantra-mantra. Malam
Ngopinyastro memang dikenal dengan
suguhan menu yang mengenjutkan disetiap bulannya. Terhitung sudah menginjak
malam ke-LXVII, siapa saja boleh ikut menyumbang suguhan diatas panggung, mulai
dari menu sastra, musik, curhat dan sebagainya.
Panggung yang
tampak berantakan dengan potongan kertas putih dan sebuah menekin kepala
tertancap diatas tiang kecil dengan mie rebus instan dan asap dupa dibagian
atasnya semakin menambah rasa ambyar malam itu. Semua itu mewakili keambyaran
semua orang yang di wujudkan dengan mie diatas kepala serta asap dupa yang
keluar dari dalam kepala merupakan bentuk solidaritas untuk saudara terdampak
kebakaran hutan di beberapa wilayah Sumatera dan Kalimantan.
Nyatulana menutup
rasa ambyar penonton dengan apik. Pembacaan puisi yang menggambarkan seorang perempuan
korban pernikahan. “aku menikahi puisi” katanya menutup malam itu.
Acara : Malam Ngopinyastro LXVII
lokasi : Warung kopi Bjong
Instalasi : Ngopinyastro, opungtejo
Photo by : Ahmad rifai

Comments
Post a Comment